Mari Memaido Sembari Berdo'a: Semoga Sebagian Paido Kita Adalah Hal yang Benar

pixabay.com
Ronggowarsito sudah memprediksi bahwa suatu saat ada zaman dimana kekacauan ada dimana-mana. Dalam hal ini beliau mengistilahkan dengan zaman Kala Tida dan Kala Bendu, zaman dimana akal sehat sudah tidak lagi memiliki posisi, tata nilai telah hancur berantakan, kesemuanya berujung pada penghambaan pada materi. Manusia tidaklah berbeda dengan hewan, sudah tidak lagi relevan definisi Insān sebagai khayawānun nātiqun.

Sudahkah zaman itu tiba? Jikalau belum, lantas apa yang hendak kita katakan saat melihat fenomena aktor korupsi e-ktp berulang kali lolos dari pengadilan? Atau yang ini; pengisi ruang dijajaran instansi pemerintahan/negara yang mengandalkan seberapa tebal dompet para calon maupun yang telah menjadi pemangku kebijakan? Bukan lagi seberapa baik kualitas anda pada bidang tersebut?

Di zaman yang sudah seperti ini, hambar rasanya petuah baik, tak ada manfaatnya juga kata-kata mutiara juga dawuh para "orang-orang suci", mereka (atau mungkin bahkan penulis) seakan telah digariskan sebagai hamba yang shummum bukmun umyun fahum lā ya'qilūn.

Lantas apakah yang hendak kita lakukan? Nisbatnya kaum yang sedari kecil selalu dicekoki doktrin untuk berbuat kebajikan. Apakah salah menghidupkan sisa-sisa i'tiqod baik yang mungkin saja masih memiliki bekas di hati manusia? Ataukah memang pasrah adalah opsi mutlak, mengikuti arus zaman jauh lebih menggiurkan.

Jika memang harus mengikuti arus zaman, lantas apa gunanya kita bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan dan Muhammad adalah Rasul? Kesaksian itu berarti mengikuti perintah agama suci ini. Olehnya, mengikuti arus bukanlah pilihan yang benar. Rasulullah sendiri hidup bukan untuk mengikuti arus kaumnya yang jahilin. Beliau masih dengan tegap menyuarakan kebaikan, dan kebenaran, "Baligh 'anni walau āyatan", sabda baginda Rasul. Lagi-lagi pasrah akan keadaan dan mengikuti arus rupanya bukanlah hal yang bijak, terlebih pasrah sebagaimana kita ikut-ikutan zaman now yang carut marut ini condong pada keputus asaan, sedangkan Tuhan sendiri sangat membenci hambaNya yang putus asa, Dia (tuhan) ialah Sang Pemilik Rahmat. Selagi hambaNya berusaha, maka jalan akan terbentang luas. Selagi hambanya mencoba memperbaiki sistem nilai zaman now, niscaya Tuhan akan memberi pencerahan.

Pertanyaan selanjutnya ialah "Apakah pantas diri kita yang akan menjadi agen-agen perubahan itu?", "Apakah kita -yang pada hakikatnya tak punya apa2- mampu merubah kondisi zaman now?". Kita terlampau jauh jika dibandingkan para nabi, atau bahkan para kyai yang memiliki segudang ilmu lalu memutuskan untuk melawan arus, terasa naif mulut penuh dosa ini mengajak kebaikan.

Namun, bukankah sifat dasar insan (lihat surat Al-Ashr ayat pertama, redaksi yang digunakan adalah insān) itu adalah tempat dosa dan lupa? Lalu bagaimana kita menangkap pesan Tuhan (pada ayat selanjutnya) yang menyuruh kita untuk "saling menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran".

Sepertinya tak ada salahnya kita (sebagai insan) selalu menyuarakan kebaikan atau kebenaran. Tak ada salahnya memaido (mengkritik) sesuatu dihadapan kita yang memang patut untuk di kritik. Sangat tidak relevan jika ada momentum untuk mengkritik sesuatu lalu justru kita menangguhkannya sebab teringat banyaknya dosa yang kita perbuat. Selama kritikan itu beralasan, logis, objektif, dapat dipertanggungjawabkan, maka tidak ada salahnya kita mengungkapkannya. Tentunya konsekuen disertai berusaha selalu menampa diri untuk menjadi insan yang baik.

Hal yang patut kita cermati saat mengkritik (memaido) ialah cara kita menyampaikan kritik tersebut. Karena sebaik apapun, sebenar apapun, seobjektif, bahkan selogis apapun kritikan tersebut jika kurang pintar kita membungkusnya, maka hanya akan menjadi perpecahan belaka.

Tak usah banyak pertimbangan untuk seberbobot apakah kebenaran  kritik kita, asalkan kriteria tadi tercukupi maka selebihnya ialah berdo'a pada Tuhan semoga sebagian dari paido (kritik) kita adalah hal yang benar. Karena tak ada kebenaran sejati di dunia ini, kebenaran hanya milik Tuhan semata. Adem rasanya jika melihat para kyai-kyai alim yang mengakhiri ceramahnya dengan ungkapan 'wallāhu a'alam bishawab' atau 'Allāh a'lamu bimuradihi', karena memang kebenaran bukan milik kita manusia. Yang kita upayakan hanyalah selekasnya berdo'a semoga kritik kita adalah kritik yang terbimbing, kritik yang membangun.

Wallāhu a'lam...

0 Response to "Mari Memaido Sembari Berdo'a: Semoga Sebagian Paido Kita Adalah Hal yang Benar"

Post a Comment