Kanjeng Nabi Sang Manusia Agung Saja Masih Bergantung Pada Allah. Anda Ini Siapa?

Nabi Muhammad Rasulullah

Kurang apanya Kanjeng Nabi Muhammad SAW itu? Tak hanya manusia yang beliau temui. Kaum Jin, Malaikat, Setan, bahkan (nuwun sewu) Gusti Allah. Bagi beliau mudah-mudah saja untuk meminta apapun jika beliau mau. Dan itu dikabulkan! Namun dengan segenap kemuliaan beliau itu, rupanya tak membuat beliau lupa pada Allah. Beliau masih berdo'a, masih berpasrah dalam hal apapun. Lalu bagaimana dengan anda (baca: penulis saja)?


Anda ini siapa? Berani-beraninya melupakan Gusti Allah! Dengan statement ini mungkin bisa saja anda menyalahkan penulis dengan nada sinis bertanya "kami ini orang biasa bukan? Nggak sekufu lah jika penulis samakan dengan Kanjeng Nabi". Namun poinnya bukan itu saudara (baca: adalah penulis) yang lagi oleng hatinya! Poin itu terletak pada jika manusia sekaliber Rasulullah SAW saja "mau" mengingat Allah, mestinya kita sebagai manusia biasa justru harus ingat Gusti Allah, benang merahnya pada perintah meniru bukan menyamai. Bahkan sebaik-baiknya "niru" itu tetap niru tak akan bisa sama dengan aslinya, paling maksimal ya mendekati seperti itu. Terlebih objek tiruan itu adalah beliau, manusia sempurna yang kita tunggu syafa'atnya kelak.

Sebagai manusia biasa, memang menjadi hal yang wajar jika segala sesuatu itu naik turun intensitasnya. Iman manusia biasa macam kita (baca: lagi-lagi hanya penulis) ini tak pernah stabil, begitu pun untuk selalu ingat pada yang Maha Kuasa. Adakalanya kadarnya tinggi, itupun jika masih dirundung masalah. Adakalanya rendah saat kita merasakan nikmat dariNya. Ada! Yang mengatakan dengan nada mengingatkan bahwa Allah, kyai, agama itu bukan "tukang nyewoki" (red: orang yang mengistinja'kan orang lain/tukang "membersihkan hati, pikiran bahkan dosa manusia). Datang padaNya itu jangan saat susah saja, untuk menghilangkan kesusahan yang lagi melanda. Namun seharusnya fi kulli hal wa makhal! (dalam setiap situasi dan kondisi). Semoga, semoga saja bisa ingat Allah SWT saat kita (baca: yaitu penulis) susah maupun belum susah. Amin...

Bukankah Imam Syafi'i juga menuturkan bahwa Allah SWT itu bisa cemburu. Saat Dia diduakan oleh hambaNya dengan lupa padaNya karena kenikmatan yang diraih hamba (baca: ialah penulis) tersebut maka Dia akan cemburu dengan menarik nikmat tersebut supaya seorang hamba tadi kembali mengenal Gusti Allah. Allah jahat? Sama sekali tidak. Sujiwotedjo sendiri mengotak-atik Asmaul Husna dengan menambah-nambah jumlah yang awalnya 99 menjadi lebih dari itu. Penambahan itu bisa dan sangat sah untuk dikatakan lumrah karena Allah sendiri Maha Segalanya. "Allah Maha Asyik" kata orang yang mengaku pernah menjadi gurunya Cak Nun tersebut.

Jika anda (baca: penulis seorang) belum bisa menerima apapun yang datang dalam hidup entah itu dari orang lain, lingkungan, atau nasib berarti kamu (baca: sekali lagi hanya penulis saja) belum mampu menemukan keasyikan dalam setiap kejadian yang datang.

Penemuan itu proses, terkadang begitu cepat keasyikan itu kita temui atau bahkan lama sekali. Tapi mari kita (baca: penulis lagi) percaya saja. "Asyik! Asyik!" Penemuan hanyalah soal waktu, nasib anda tetap akan "asyik" pada saatnya. Kapan? Saat asyik itu anda temui. Jika belum menemukan si "asyik" ya berarti belum saatnya asyik. Memangnya jika anda (baca: ah penulis lagi) sudah temui keasyikan itu mau untuk apa coba? Jika anda seorang jomblo dan menanti masa move on sebagai penantian masa asyik mu (baca: dasar penulis!) lalu asyikmu besok buat apa? Bikin pamer? Atau bikin mantanmu itu menyesal? Mbok nggo opo nang (ini penulis)? Lha mbok sudah! Kamu masih dikasih kesempatan untuk hidup itu saja sudah keasyikan yang luar biasa. Syukuri (Lis Penulis!!!) Pasrah.

"Jangan serius-serius lah, Allah tahu kita ini siapa" kata Gus Mus. Apa yang sudah pergi biarkan pergi, apa yang telah berlalu biarlah berlalu. Adalah mereka yang mampu mengambil ibrah (pelajaran) untuk setiap kejadian, mereka yang masih mengenal Allah, mereka yang pasrah, mereka itu? Sebijak-bijaknya orang bijak.

Penulis sendiri bukanlah orang Jabariyah yang apa-apa Gusti Allah disebabkan menguraikan apa yang ada di atas. Semua apa yang ada di atas tentang kepasrahan itu mari jadikan dan tancapkan dalam hati masing-masing. Usaha itu wajib. Sewajib kita memasrahkan semuanya pada yang Maha Kuasa. Sewajib mewajibkan pasrah itu pada diri anda bukan malahan pada diri orang lain. Ini kewajiban kita bukan mereka. Anda tak mungkin kan menjahili orang lain sembari mewajibkan pasrah pada Allah untuk kejahilan tersebut? Anda berhak melakukan itu namun orang lain berhak pula membalasnya, itupun jika ia menganggap membalas itu adalah haknya, atau mungkin ia malah berfikir bahwa ia berhak untuk dijahili? 

Entahlah. Hak dan kewajiban itu mari kita (baca: kalau ini penulis saja) posisikan pada perpektif masing-masing. Apa kewajiban dan hak anda itu menurut perspektif anda. Lalu? Apa hak mereka itu perspektif mereka. Jika demikian mungkin yang muncul ialah kesefahaman bukan percekcokan. Jangan khawatir, jika penghormatan pada masing-masing itu justru akan menyebabkan orang lain jatuh tersungkur. Kita semua punya Allah.

Allah menguji hambaNya itu hak beliau, Allah membuat senang juga hak KemurahanNya. Biarkan mengalir.

Tenang! tahan tahan tahan! Tenang? . . .

Allah A'lam...

NB: 

1. Ini tentang penulis, sungguh. Kata ganti hanya agar asyik saja. Kembalikan semua kata ganti itu pada penulis. Jika kebetulan mirip? Sini kita ngopi bareng! 

2. Jangan tanya sistematika penulisannya yang rusak. Do'akan saja skripsi penulis yang belum apa-apa itu. Hehe

3. Jangan tanya pula sumber data semuanya dari mana? Itu orisinil dari Gusti Allah (ciye penulis ikutan Jabariyah) . Karena siapa yang mengirim semua pengetahuan itu pada penulis kalau bukan Dia?

4. Cukup lah. Sudah kebanyakan NB. Kapan-kapan ganti BK saja NB-nya. Singkatan dari Banyak Koar-koar. Eh?

0 Response to "Kanjeng Nabi Sang Manusia Agung Saja Masih Bergantung Pada Allah. Anda Ini Siapa?"

Post a Comment