Kullu Bid'ah Itu Barokah?

http://www.nu.or.id/post/read/67714/inilah-kriteria-bidah-dhalalah-dan-bidah-hasanah

Memang menurut mereka bid'ah itu apa coba? Kita tahlilan dibid'ahkan, pengajian bid'ah, sholawatan burdah, barzanji dan lain sebagainya bid'ah pula. Ya memang sama-sama taunya kalau (biasanya) orang yang pernah ngaji sirah nabawi bahwa hal-hal yang disebut di atas itu (belum pernah) ada di masa Rasulullah SAW. Mungkin patut dipertanyakan apakah orang itu murni serta maksimal pemahamannya akan akulturasi budaya Islam-Jawa.


Jika memang bid'ah itu diartikan sebagai semua hal yang baru (tidak ada pada masa nabi) itu bid'ah, kenapa mereka tak membidahkan cangkem mereka yang suka berbicara bid'ah itu. Atau betapa bidahnya ibu-ibu mereka melahirkan mereka, bukankah pada zaman nabi dulu bel ada?. Saya juga sebenarnya ragu, tatkala mereka lancang membidahkan upacara agama ala kami yang banyak kyai sekaliber Mbah Bisyri, Gus Dur, Gus Mus, bahkan Mbah Maimun saja "mendhel" atau tak membid'ahkan. Tingkat keilmuan mereka itu sampai mana coba? Sudahkah belajar tajwid untuk baca Al-Qur'an?, nahwu, shorof, balaghoh, dan fan keilmuan lainnya. Keraguan saya ini terkait laku mereka yang suka ngajak ribut untuk mengedepankan Al-Qur'an dan Hadist dalam mengatasi permasalahan, lucunya bukan Al-Qur'an atau Hadist yang mereka kemukaan itu akan tetapi terjemahan yang anak SD saja bisa lah membaca dan menguraikan sedikit-sedikit terjemahan itu. Namanya Al-Qur'an dan Hadist itu ya yang bahasa Arab itu kang, kalau pingin mendekati dua sumber itu ya pelajari dulu bahasa Arab biar tidak gagal paham mengurai dalil-dalil agama yang sakral dan tak sembarang wudelmu saja kang.

Contohnya ini, anda bilang hanguskan bid'ah atas dasar "kullu bidayin dlolalah wa kullu dlolalatin fin nar" anda dengan lihai berbicara dengan dalil ini sambil teriak2 bahwa semua bid'ah itu sesat dan masuk neraka. Sekarang gini aja. Saya balik tanya coba. Kullu itu kalimah apa? Tarkibnya jadi apa? I'robnya apa? Lebih dalam lagi konteks atau asbabul wurud dari Hadist itu seperti apa?  Jika belum sampai mengerti jauh dari hal itu semua atau hal lain ya jangan buru-buru menyimpulkan sebuah Hadist kang. Ketimbang saya jadi nyinyir lalu tertawa terbahak-bahak melihat lakumu itu.

Kalaupun memang kita tak mampu memgutai jauh contoh persoalan di atas untuk memahami Al-Qur'an dan Al-Sunnah ya kita ambil alternatif saja, kita bisa memahaminya dengan tanya pada orang yang faham (kyai) atau membaca karya-karya mereka. Cukup modal percaya saja kita dengan mudah melaksanakan apa yang diseratkan nabi kita. Terlebih budaya taqlid itu tidak asal-asalan, ada semacam kevalidan sanad yang sambung menyambung hingga Nabi Muhammad SAW. Bukankah al ulama warasatul anbiya'? Ulama itu pewaris para nabi jika saat ini kita tak bisa melihat nabi ya nurut sama kyai saja supaya laku kita sesuai anjuran dan ajaran nabi.

Taqlid itu juga tak sembarang taqlid, harus melihat yang ditaqlidi, apakah ia punya sanad atau tidak. Juga kualitas dari orang yang ditaqlidi juga perlu dipertimbangkan, dengan taqlid yang semacam itu niscaya kita akan bisa hidup penuh barakah tanpa khawatir akan bid'ah yang sesat itu, kalaupun yang kita taqlidi dari kyai itu sebuah bid'ah anggapan mereka, khusnudzon sajalah (berhubung kita orang yang masih bodoh) bahwa kebid'ahan itu hasil dari perasan pemahaman kyai pada dua sumber Al-Qur'an dan Hadist.

Wallahu a'lam...

0 Response to "Kullu Bid'ah Itu Barokah?"

Post a Comment