"Kang, kamu kok masih disini? Ndak mudik tah?, temen yang lain sudah pada kundur lho!" Tanya temen satu pondokku. Saya yang sedari awal sudah tak nafsu membahas isu ini hanya diam sambil senyum sedikit. "Kenapa kang? Kamu nggak kangen keluarga?" Hehehe. Senyumku lagi-lagi muncul kembali, kali ini sudah agak kesal. "Oh, Sampeyan nggak punya uang ya untuk mudik?" Rentetan pertanyaan itupun terpaksa aku jawab dengan nada tinggi "KEPPO!?"
Entahlah, sebenarnya bukan apa-apa sampai saya benar-benar sensitif bahas tema ini. Mudik itu identik dengan desa, keluarga, kampung halaman karena sesuai asal usul katanya, mudik berasal dari kata udik (desa) dengan tambahan afiks 'mu' kata mudik menunjukan arti berdesa (menuju desa). Tapi bagaimana dengan mereka yang tempat asalnya adalah kota? Kenapa masih saja menyebut diri 'mudik' saat menjelang lebaran? Alah mbuh!
Males, males, males mudik sebenarnya. Kemalesan itu muncul disaat sampai kampung halaman sudah seperti orang asing. "Ini kampungku dhe! Tempat asalku! Kenapa malah aku yang terasingkan?". Orang-orang mungkin kenal saya namun saya yang sulit mengenal. Dulu yang kecil kini sudah besar, yang masih dalam ayunan kini telah ikut tarawih di mushola, yang dulu sebaya kni telah nikah. Nikah pun pasti tak sendiri kan? Bersama pasangannya yang lagi-lagi tak saya kenal. Makin asing pokoknya diri ini di kandang sendiri.
Kemalesan saya bertambah saat sudah sampai di rumah hanya diam tanpa ada kegiatan berarti. Mau keluar tak ada yang diakrabi, sudah banyak wajah-wajah baru. Toh di rumah sudah tak sehangat dulu, kalau dulu mas dan adik bisa kumpul bercanda tawa bersama, kini sudah berbeda. Ada yang sudah punya rumah sendiri karena memang sudah berkeluarga, ada yang karena alasan kerja terus pulangnya entah kapan, atau bahkan tidak pulang sampai takbir lebaran berkumandang. Males kan?
Hal lain yang terkadang bikin males lagi ialah keharusan selalu pakai topeng saat di rumah. Bagi yang merantau bekerja harus pakai topeng "wah" biar dikira kerjanya lancar. Atau bagi yang merantau mengais ilmu harus pakai topeng ke-perfect-kannya. Anak pondok harus senantiasa sopan padahal di pondok misuh saja sudah jadi kebiasaan, atau topeng mewajibkan shalat berjamaah padahal waktu di pondok sholat saja sering qodlo' (ditambal, membayar kewajiban sholat yang tidak dilakukan sebelumnya). Saking banyaknya qodlo' sehingga sholat wajib serasa sholat tarawih. Dan topeng-topeng yang lain lagi. Sepertinya jika perantau (orang yang merantau) terlalu lama mengendap di desa niscaya kembali ke perantauan sudah bisa menyaingi artis ya? Orang tiap hari 24 jam sudah biasa latihan akting.
Kemalesan yang terakhir sebenarnya saya males nulis di tema ini. Ini sudah males klasik soalnya. Nggak lucu lagi dan nggak termasuk headline news. Iya, males karena harus mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan yang bikin males. Kapan nikah? Kapan wisuda? Kapan boyong pondok? Skripsi sampai mana? Habis lulus mau apa? Mau jadi menantuku? Eh, Yang terakhir itu kayaknya menarik deh. Bisa di coba, kali aja cocok. Heuheuheu
Semales-malesnya orang (red: cuma saya) yang males mudik mungkin satu yang perlu diingat. Niatkan semua mudik kita sebagai kesempatan bersilaturahim, sudah cukup itu bukan yang lain. Kalau malesnya kambuh lagi silahkan berfikir sejenak untuk mengingat-ingat hal berharga tersebut.
Salam Mudik

0 Response to "Kenapa Orang Malas Mudik?"
Post a Comment