Mengenang Abah Nafi Abdillah Kadjen, Slamet Santri Nglenyo

http://tarbijahislamijah.com/kitab-kuning-pacar-santri-tarbiyah-islamiyah/

Sudah banyak yang telah menceritakan sosok beliau baik itu murid-murid beliau atau keluarga beliau atau yang lainnya. Karena mungkin setiap laku beliau memang menjadi sesuatu yang istimewa bagi orang lain sehingga patut untuk jadi bahan cerita. Pada kesempatan ini saya mungkin orang yang menceritakan suatu hal tentang beliau tanpa melihat langsung kejadian yang saya ceritakan ini. Cerita ini saya tulis setelah mendengar dari teman saya beberapa waktu lalu.


Ada seorang santri beliau di Mathali'ul Falah sebut saja Slamet. Slamet adalah santri yang memiliki karakter agak sembrono, begitupun dengan Abah Nafi' yang bagi saya beliau sosok yang sangat disegani oleh siapapun.

Suatu ketika Abah kebetulan mengajar di kelas Slamet, beliau waktu itu ngasto pelajaran qiro'ah. Seperti biasa, pelajaran qiro'ah yang notabene adalah maharah atau skill membaca teks Arab sering diisi kegiatan latihan membaca. Pada waktu itu Abah Nafi' mengutus semua murid maju satu-satu untuk membaca kitab dihadapan beliau dan para santripun mengikuti apa yang diperintahkan oleh kyai mereka itu.
Sampailah giliran Slamet, santri nyentrik itu untuk maju membaca kitab dihadapan beliau. "Ayo met, rene maju moco!", ngendiko Abah Nafi' memanggil Slamet. Slamet yang nyleneh itu balik menimpali "yo yo, kareg 5 menit ae kog kon maju!" Sambil sedikit kesal akhirnya Slamet pun maju. Abah yang saat itu sudah mengerti sifat Slamet hanya diam. Saat Slamet membaca kitab pun ia tidak lepas dari sifat nglenyohnya. Seperti biasanya, jika ada bacaan yang salah Abah akan mengetuk meja sebagai tanda bahwa bacaan murid itu salah. Slamet yang sembronopun maju dan mulai membaca kitab, namun saat bacaan dirinya salah maka sudah menjadi hal yang pasti Abah mengetuk meja "dhok" Si sembrono Slamet malah balik membalah ketukan "dhok!" Hingga Abah pun tersenyum "ee disalahno kok gak gelem"

Akhirnya melihat Slamet yang demikian, Abah pun hanya memperhatikan laku muridnya tersebut. Namun sembrononya masih saja berjalan, saat ia membaca kitab tanpa Abah mengetuk meja Slamet malah selalu mengetuk meja. Hingga akhirnya ia membaca sembari mengetuk meja sering kali. "Alhamdu utawi sekabihane puji, lillahi iku tetep kagungane gusti" dhok dhok, arrahmani kang moho "dhok" welas asih dhok dhok dhok.

Senyleneh apapun Slamet, ia masih tetap Sembodo pada siapapun, hingga nylenehnya ada kemungkinan oleh orang lain, tak terkecuali Abah. Seorang yang memiliki hati yang nyegoro. Dengan ini beliau sangat mudah menerima sembrononya si Slamet itu. Bahkan pada sebuah kesempatan Abah meminta wali kelas Slamet untuk memberi nilai yang bagus bagi dirinya. Mungkin jika saya yang ada pada posisi itu saya akan marah semarah-marahnya. Namun begitulah Abah.

Kagem Abah Nafi' Allahu yarham. Al-Fatihah...

Cerita ini saya ceritakan tanpa ada klarifikasi pada sumber cerita dan tanpa seizin mereka. Bagi anda yang merasa orang atau mungkin orang yang ada kaitannya dengan cerita ini saya minta izin dan maaf yang sebesar-besarnya. Semoga saja bermanfaat.

0 Response to "Mengenang Abah Nafi Abdillah Kadjen, Slamet Santri Nglenyo"

Post a Comment