Jika Mereka Lantang Meneriakkan Kebenaran

pixabay.com

1. Dunia tidaklah selalu tentang hitam putih. Tak juga melulu hanya sampai halal, haram, makruh, mubah, dan khilaful aula. Bukan, bukan sesempit itu. Jika memang antum hanya memahaminya sampai disini maka mungkin kita belum membuka mata kita sejembar-jembarnya, mengizinkan pikiran kita melayang sedalam-dalamnya. Ada banyak lagi pilihan untuk memandang dunia, dan lagi-lagi itu bukan hanya benar salah. Jika sakit datanglah ke dokter, anda bingung masalah rokok apakah itu baik untuk anda maka datanglah ke dokter. Bingung mau usaha apa? Mari tanya mentor wirausaha. Haruskah negara ini berubah bentuk jadi negara Islam? Tanyalah pada mereka para negarawan. Tak semua masalah bisa clear tatkala kita tanyakan pada Kyai (katakanlah: orang yang faham agama), karena mungkin ada yang terpotong saat kita definisikan apa itu agama?


2. Saya berfikir tatkala saudara kita menyandarkan apa-apa yang ada di dunia ini hanya pada persoalan fikih saja, apakah mereka tidak sadar bahwa ada dimensi lain selain fikih (syari'at). Kemana thoriqoh mereka? bilamana haqiqoh mereka? Fikih hanya mengatur sepertiga dari apa yang ada di dunia kita. Olehnya terasa gersang kang jika fikihmu terlalu kencang. Kurang apanya sistem demokrasi kita? Betapa sempurnanya hukum yang berlaku di negara kita? Lalu kenapa koruptor masih saja marak dengan berjama'ah? Borjuis, mereka yang kapitalis terus menindas yang lain? Iya, lagi-lagi aturan (yurisprudensi) itu memang bukan segalanya. Pejabat di negeri ini memang begitu pintar, faham semua aturan main bernegara, fasih berorasi atas nama rakyat. Jika moral masih saja bejad lalu apa bedanya kita dengan mereka yang pandai mengotak-atik hukum dengan benar. Begitupun kurang lebihnya berfikih bersikap selalu atas nama kebenaran, tanpa memandang akhlak, tasawuf ia bagai perempun yang berdandan cantik tanpa tahu apa maksud ia berdandan.

3. "Kebenaran adalah sebidang cermin yang ada di hadapan tuhan, lalu terjatuh dari langit sana dan pecah berkeping-keping di dunia. Kemudian manusia mengaca kebenaran mereka masing-masing pada pecahan itu". Begitulah dawuh salah seorang ulama' agung. Maka, betapa naif kita tatkala menyandarkan kebenaran untuk setiap hal di dunia ini apalagi ia selalu merasa lebih atau paling benar dengan yang lain. Adalah keindahan, tingkatan berikutnya untuk melengkapi kebenaran. Mari menjadi benar dengan baik, karena kita bukan hanya berhadapan dengan tuhan semata untuk hidup di dunia ini, ada manusia lain untuk kebenaranmu. Olehnya, Benar dengan baiklah sesuai lingkungan sekitar kita.

4. Saat kita melihat seorang yang tak menutup warung saat bulan Ramadhan, lalu kita mengobrak-abrik warung itu atas dalih "nahi munkar ini bulan puasa", haram makan bagi setiap muslim. Maka ber-amar ma'ruf-lah untuk kebenaran yang anda pegang dengan indah. Tak usah khawatir dengan nahi munkar-mu, karena jika kita berlaku kebaikan itu sudah otomatis kau ber-nahi munkar. Kenapa? Poinnya sama bukan? Sama-sama menutup warung saat puasa. Kebenaran itu ada dibelakang, iya di dapur. Ia akan menjadi enak saat sudah tersajikan menjadi kebaikan, kasih sayang.

5. Mungkin begitu mudah kita menulis atau berucap, namun sangat sulit terkadang melakukan apa yang kita tulis. Setidaknya tulisan ini awal untuk mari kita sama-sama berfikir untuk sebuah perbuatan yang baik bersama-sama.

NB: judul dan beberapa ide diambil dari dakwah dan tulisan Ulama' kondang MH Ainun Nadjib (Cak Nun)

0 Response to "Jika Mereka Lantang Meneriakkan Kebenaran"

Post a Comment