Banyak teman yang masih saja penasaran. Apa arti sebenarnya kata-kata itu. Iya, ini bukan benar atau tidak. Ini tentang penemuan pola yang bersifat subjektif. Bukankah hidup itu berpola? Bersistem? Sehingga tugas utama kita ialah menemukan keterpolaan untuk setiap realitas yang ada.
Baik. Seperti ini. "Tenang!. . Tahan. Tahan. Tahan. Tenang?! . . . Allah"
Pernahkah anda mendengarkan senandung menyejukkan: Jalan Sunyi oleh Cak Nun? Silahkan beri kesan, tanggapan, atau bahkan kritikan masing-masing anda memberikannya.
Penulis sendiri menangkapnya Jalan Sunyi adalah cara terbaik untuk menemukan ketenangan. Seperti apapun kita, semua memiliki jiwa, emosional yang sama. Sama-sama flukuatif, labil, atau bisa saja anda pada tataran pemilik jiwa yang stabil, namun pada suatu titik ada saatnya juga anda menggerutu. Wajar! Itu lumrah. Sifat alamiah hati manusia selalu berbolak-balik. Saat ini cinta 1 detik kemudian sudah berbeda. Kini tertawa 1 jam kemudian merana. Wajar. Persoalannya tinggal berapa lama frekuensi gelombang naik turun itu berlangsung? Sampai kita menemukan nafsun mutmainah (jiwa yang tenang/tidak labil/stabil)
Dorrrrr! Dalam ketidak menentuan frekuensi itu, sesegera mungkin putuskan untuk menghadirkan hati anda di tengah gejolak itu. Tenang lah sekejap. Rasakan "trecep-trecep" yang datang. Terus saja rasakan!. Rasakan!. Rasakan lebih dalam!. Dan rasakan!.
Tak menentu ketenangan itu seketika membuat anda tenang dengan tenang. Namun tahan lah! Tahan. Tahan. Kita sangat merdeka dan sangat mungkin mengeluarkan ekspresi untuk sesuatu yang kita rasa kaitannya dengan semua hal luar yang datang. Namun tenanglah. Tenang inilah yang paling sulit untuk didapatkan. Kerahkan semua pengetahuan yang ada untuk mempertimbangkan segala responnya.
Ajaran Islam sendiri sering menekankan agar kita untuk menahan. Shaum: Imsak: tahan! Tirakat: meninggalkan. Tinggalkan apa yang kita inginkan. Tak semua keinginan itu harus kita lakukan. Tahan! Atau Riyadloh?: olah raga hati. Hati seorang hamba yang selalu cenderung pada hal yang menyenangkan. Namun tahan. Biarkan keringat kegelisahan hati itu keluar saat kita berolah hati dalam menahan. Tahan. "Ojo kagetan" kerahkan kemampuan untuk menahan gambar hati.
Jika sudah selesai menahan lantas ketenanganlah yang akan datang. Tanyakan pada hati kita sendiri. Sudahkah tenang? Sudah? Apa yang anda dapatkan dari ketenangan?
Allah . . .
Semua akan ada pada titik ini. Allah. Rabb siwahu. Al Haq. Al qodr.
Tenang! Tahan... Tahan.... Tahan.... Tenang?! . . . . Allah.
Wa Allah A'lam...

0 Response to "Tenang! Tahan Tahan Tahan... Tenang! Allah..."
Post a Comment