Aku Ini eNU?

http://ayuulfadewi.blogdetik.com/2013/06/08/harlah-nu-ke-90-kecewa-atau-bahagia-aku-bangga-menjadi-nu

Sampai detik ini kami belum faham pula sebenarnya sejak kapan kami resmi jadi orang NU. Atau sampai saat ini, kamipun belum memahami apa syarat dan rukun agar sah dan benar-benar menjadi orang NU. Jangankan bergerak dan ikut nguri-nguri dengan ikut dalam wadah semacam IPNU, Banser, PMII, RMI, atau apalah itu. Sampai saat ini pula kami belum juga punya kartu NU.


Akan tetapi kami merasakan, saat ini, jika NU dipuji oleh dunia sebagai organisasi yang "menggalakkan" Islam yang moderat maka hati kami bangga. Atau kami juga merasakan betapa pedihnya saat terdengar kabar hari ini orang-orang NU sendiri saling terbelah, mencacimaki satu dengan yang lain. Kami juga tak segan membela jika NU dihina oleh mereka yang hanya faham setengah-setengah akan NU. Akhir-akhir ini kami juga merasakan sak mbuh saat budayawan sekaligus kyai kondang dan sekilas sering memberi penguatan pada amaliyah NU meskipun beliau mengakui bukanlah orang NU, MH Ainun Nadjib, akhir-akhir ini ikut memberikan komentar miring terhadap PBNU yang menerima dana 1,5 T dari pemerintah Indonesia. Entahlah!

Saat ini, kami semacam memiliki dan mencintai tanpa kejelasan status pada NU. Bukankah derajat cinta tertinggi itu ya ini itu? Tanpa pengakuan namun merasakan, terus memberi tanpa harus berharap dilabeli. "Aku mencintaimu, sudah! Ini urusanku." Kata Dilan. Ihirrrr...

Jika anda ditanya "NU itu apa?". Kita mungkin akan menjawabnya dengan beraneka ragam jawaban atau bahkan 'pertanyaan' jawaban. NU itu narik urunan. Katanya! Atau kita balik nanya. Memang penting NU itu apa? Kalau anda manut kyai dengan sendirinya anda itu NU. Jawaban yang agak serius ialah NU merupakan organisasi keagamaan-sosial yang berfahamkan ahl al-sunah wa aljama'ah. Lalu siapa anggotanya? Mereka yang punya kartu NU?  Mereka yang ikut kegiatan NU? Lalu bagaimana dengan mereka yang hanya taqlid berNU? Atau NU itu ya cukup kita artikan sebagai ideologi saja? Biar gampang kita memasukan orang-orang yang sudah satu bendera.

Rupanya NU tak cukup kita artikan dalam satu pandangan saja. Terlalu luas apa itu NU. Definisi apapun mungkin tak bisa menggambarkan NU itu apa. Biarlah NU menjadi air jernih yang berhak bagi siapapun untuk menenggaknya.

Kuncinya mungkin ada pada jam'iyah dan jama'ah. NU itu organisasi sekaligus komunitas. Jangan mudah memberi klaim ke-NU-an apapun kondisinya, terlebih saat ada oknum yang berbuat tak layak.
Apalah arti uang triliyunan bagi kami. Sudahlah terasa ayem saat bergulat dengan NU. Serasa tak peduli orang mau menyebut. Tak usah pula menuntut kami membela. Biarkan kami membela sesadarnya kami membela. Kami masih sama, bertahlil, wiridan bersama setelah shalat, bersholawat ala barzanji, burdah, simthu duror, kami juga tak henti-hentinya membaca qunut saat shalat subuh. Anda tahu? Kami melakukan semua itu dengan senang hati, tanpa menuntut dan dituntut. Kami juga ngaji dengan kyai di pondok-pondok pesantren dengan kitab-kitab 'ulamauna salaf al-sholih

Bukankah cukup ke NU an kami? Kami cuek untuk saat ini dengan hal yang selain itu. Secuek kami dengan nama NU agar melakukan amaliyah itu. Bagi kami NU adalah ideologi. Sudah. Cukup!

Wa Allah A'lam...

0 Response to "Aku Ini eNU?"

Post a Comment